Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2008

Potret Manis Liukan Gadis Bali

Potret Manis Liukan Gadis Bali

Lirikan matanya seperti bola yang terpantul. Cekatan dari sudut mata ke sudut satunya. Tubuhnya menari. Gemulai. Kakinya menapak polos di permukaan bumi. Hampir tanpa letih. Menari dan terus menari. Lentik jarinya memberi sepoi-sepoi angin segar. Pasti sejuk dan menyegarkan. Menyejukkan siapa saja yang sedang mengagumi tariannya di bawah sinar bulan dan menyegarkan segala lelah seluruh tubuh perempuan penari hingga ia lupa berhenti. Setiap malam aku melihatnya menari di bawah siraman sinar bulan hingga tiap malam aku mengharapkan dia menari. Tak sadar aku selalu menanti. Entah menanti dia menari atau sekadar menanti berlalunya hari agar lekas malam. Sayang, malam ini bulan tertutup hujan. Hujan yang di kemudian hari kian giat memaksa aku untuk melihat liak-liuk tariannya hanya sebatas dalam angan-angan.

Perempuan yang wajahnya berias cahaya bulan telah lama menyita semua waktuku. Malam ini, dia telah membawa pergi dirinya. Seutuhnya. Sekalian pula turut terbawa pergi semua waktuku. Waktu yang dulu tidak pernah sia-sia. Waktu yang sekarang hanya bisa aku isi untuk mempermainkan imajinasi. Mungkin dia membawa semua itu untuk mencari sinar bulan yang tidak tertutup hujan. Aku tahu dia tidak mungkin berhenti menari hanya karena hujan. Dan aku tahu mengapa dia sengaja meninggalkan hujan di sini untukku. Seharusnya, dia turut meninggalkan pesan pada hujan. Sebab, hujan memang masih belum pandai menari. Seharusnya, dia melakukan itu lebih dahulu sebelum meninggalkanku. Dan aku pun jadi tak berteman kesepian ketika dia tinggalkan mencari sinar bulan.

Dalam kesepian, bagi penyair, perempuan yang kunikmati sendiri dalam imajinasi itu mungkin laksana puisi romantis. Bagi pelukis, mungkin lukisan ekspresionis. Tapi, di posisiku sebagai aku yang sekadar mengagumi, perempuan itu serupa gadis Bali yang tersesat di dasar hatiku. Yang barangkali sampai mati akan terus menari di sini. Di sini: di dada kiri yang selalu kutunjuk dengan jari telunjuk.

"Mengapa semua lukisan Bapak modelnya hanya gadis penari Bali?" tanya salah seorang wartawan di salah satu pameran seni-budaya.

Pertanyaan yang benar-benar sulit dalam hidupku. Sebab, aku tidak mungkin menjawab: "karena kesepian". Meskipun hanya itu yang jujur, tetapi itu jawaban yang paling tidak logis. Sebab, sangat tidak berhubungan dengan gambar yang kulukis. Jika kujawab dengan jawaban seperti itu, bisa-bisa aku dianggap seniman gila oleh semua orang. Dan reputasi yang kurintis sedari dulu cepat atau lambat akan hancur lebur. Tetapi, jika kujawab: "karena cinta", jelas tidak mungkin. Itu sama saja mendustai diri. Sebab, jika kumerasakan cinta, lebih baik kunikmati cinta itu sendiri di hati daripada membekukan cinta dalam sebuah gambar sederhana.

"Baca saja puisi yang tertera di tiap-tiap gambar. Kata-kata dalam puisi itu menjadi alasan saya mengapa dalam keseluruhan lukisan saya, saya memilih melukis gadis penari Bali." Begitu aku mengelak pertanyaan yang benar-benar sulit dalam hidupku. Biar saja wartawan itu yang mengartikan sendiri puisi-puisi yang hakikatnya memang sangat sulit dimengerti. Aku yakin hasilnya pasti akan menjadi terkaan semata.

Aku tidak perduli. Dia akan menganggap aku memotret puisi menjadi lukisan atau tidak berpikir sama sekali bahwa aku jujur melukis perempuan yang kini sibuk mencari sinar bulan. Aku tidak pernah ambil pusing dengan semua hal itu. Aku hanya ingin menunjukkan secara jujur bahwa sekarang hanya perempuan penari Bali yang bisa kulukis satu-satunya. Tidak ada yang lain dalam imajinasi kanvas selain gemulai si gadis Bali. Gadis yang sekarang justru terlihat menonjol menghiasi pameran lukisan dan yang sekaligus berhasil meninggalkan satu pertanyaan sulit dalam hidupku.

Sore itu, hujan deras dan sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti sama sekali malam nanti. Para penikmat seni di pameran tidak terlihat berkurang. Kuamati air hujan yang jatuh. Bulir-bulirnya tenang menetes searah ke tanah. Kadang-kadang sempat menampar dedaunan di depan galeri pemeran. Indah sekali. Tetapi sayang, ternyata tiap tetes air hujan tetap belum bisa menari seperti gadis Bali di malam hari.

Senin, 22 September 2008

Hasan sang Pria Perkasa



Alkisah hiduplah seorang cowok macho bernama Hasan. Dia dianugerahi fisik yang sempurna oleh Tuhan. Tinggi sekitar 181 cm, badan atletis serta dibalut otot-otot yang membentuk peta Indonesia. Cewek mana yang nggak kesengsem kepada cowok model begini.

Termasuk Vero. Wanita yang sudah setahun ini menemani Hasan baik suka maupun duka. Siang itu Hasan berkunjung ke rumah Vero dengan harapan bisa makan siang di rumah kekasihnya itu. Maklum, Hasan adalah anak kos yang uang makannya selalu dijatah sama ortunya.

Begitu sampai di rumah Vero, tanpa babibu langsung aja Hasan meluncur ke dalam rumah. Tak ubahnya anjing pelacak, cukup sekali jalan dia sudah tahu di mana letak dapur. "Halo cinta, lagi masak apa nih?" Hasan menyapa Vero yang sedang menyiapkan makan siang. "Kamu ini mesti, ke sini kalo pas laper aja," ketus Vero. "He he".

"Ya udah ini udah aku siapin bayem. Tapi, entar kalo udah selesai maemnya bisa minta tolong nggak?"

"Iya iya tapi entar aja ngomongnya ya. Abang udah nggak nahan lapernya. He he," jawab Hasan.

"Ya udah, aku tunggu di ruang depan ya."

**********

"Minta tolong apa?" Hasan mengagetkan Vero yang sedang bersantai di ruang tamu.

"Hmm, kamu sayang nggak ama aku?"

"Kamu apaan sih kok pake tanya kayak gitu."

"Sebagai bukti kalo kamu sayang sama aku, berarti mau dong aku minta tolong kamu belikan sesuatu?"

"Selama secara finansial mampu, apa pun aku belikan buat kamu," ucap Hasan mantap.

"Yaelah, nggak butuh uang banyak kok. Cuma minta tolong belikan pembalut di mini market seberang jalan. Aku kan lagi dapet sekarang," Vero mengangkat tangan dan menunjukkan tanda kutip.

Dhuarr. Pecah sudah segala keperkasaan Hasan. Dia merasa seperti seorang penderita stroke yang diajak maraton. Seumur hidup berbagai bahaya telah dia lewati. Kecuali satu hal, membeli perabotan cewek yang berjudul pembalut. Buat Hasan, lebih baik duel melawan macan daripada harus membeli sebuah benda yang dia anggap sebagai barang haram.

"Kamu sayang nggak ama aku?" Vero memecah lamunan Hasan.

"Ya sayang sih sayang. Tapi, apa nggak ada cara lain biar kamu tahu kalo aku sayang ama kamu,"

Vero tersenyum tipis. "Nggak ada."

"Baiklah, demi pembuktian cintaku. Apa pun bakal kulakukan," kata Hasan mantap.

"Yes! Semangat ya say. Oya, di dalem mini market raknya yang paling ujung ya. Jangan kesasar."

Layaknya seorang prajurit yang akan maju ke medan perang. Langkah Hasan terasa berat. Sayup-sayup terdengar lagu Gaby yang penuh misteri.

Hanya membutuhkan waktu 10 menit, sekarang Hasan sudah berdiri tepat di pintu masuk mini market. Terdiam sesaat, mulutnya komat-kamit seraya berdoa. "Pasti bisa!" ucapnya berkali-kali dalam hati. Jantungnya berdegup kencang ketika dia memasuki mini market.

Di dalam tampak lengang. Hanya tiga orang pria paro baya yang berbelanja hari itu. "Di dalem mini market raknya yang paling ujung ya," pikiran Hasan kembali terngiang oleh ucapan Vero. Secara perlahan Hasan berjalan menyusuri rak demi rak untuk mencapai yang paling ujung.

Dia mempercepat jalannya. Dua langkah lagi, dan... Dhieeng! Oh my God! Terlihat lima orang cewek yang berdiri pas di rak bagian onderdil alat-alat kewanitaan. Hasan mengurungkan niatnya untuk sementara. Sebagai kamuflase, dia langsung menyambar barang yang ada di depannya. Sayup-sayup terdengar obrolan yang tak dimengerti pria seperti Hasan.

"Nggak enak ah, pake yang ini. Rambutku ketarik-tarik" wanita pertama menyela.

"Ah masak?" timpal wanita kedua dan ketiga.

"Iya, rambut-rambutku sempat rontok gitu. Mana kekecilan lagi. Jadinya, rambut-rambut tipisnya keluar-keluar gitu," wanita pertama menambahkan.

"Aku sih make yang ini nyaman banget. Pas waktu basah, bagian dalemnya terlindungi gitu," ucap wanita keempat.

"Iya sama. Pertama sih aku nggak percaya, tapi setelah aku sentuh bagian dalemnya kering loh. Nyaman deh pokoknya," wanita kelima mengiyakan ucapan wanita keempat. "Hah! Apa yang mereka bicarain?" ucap Hasan dalam hati.

"Ya, emang sih pas mandi make pelindung rambut yang ini, rambut nggak basah-basah banget," ucap wanita pertama yang mempertegas teman-temannya.

"Yaelah, aku pikir apaan," gumam Hasan.

"Ehm. Nak Hasan!"

Hasan kaget bukan main oleh suara yang menggelegar itu. "Ya Allah, Nak Hasan, istighfar. Perbuatan seperti itu dosa besar hukumnya," ucap seorang pria paro baya beserban yang berdiri di sebelahnya.

"Eh, Pak Haji," sapa Hasan.

"Kamu ini masih muda. Jalanmu masih panjang, jangan kamu rusak dengan hal yang tidak diizinkan oleh Tuhan."

"Apa maksud Pak Haji?" Hasan kebingungan.

"Dasar anak muda zaman sekarang. Cepat kamu taruh lagi kondom yang kamu pegang itu!"

OMG, ternyata secara tak sadar benda yang dipegangnya dari tadi adalah satu pak kondom. "Oh, ini salah paham Pak Haji," ujar Hasan.

"Udah nggak usah pake alasan, nanti malem kamu wajib ke rumah Bapak. Ada pengajian yang wajib kamu hadiri," tegas Pak Haji.

"Iya Pak," sahut Hasan lirih. "Ya udah Bapak pulang duluan," Pak Haji langsung meninggalkan Hasan bengong sendirian.

Apes bener hari ini, pikir Hasan. Hasan menoleh ke arah tempat para gadis tadi, dan.. Yes akhirnya rak bagian perabotan wanita kosong juga. Nggak ingin kehilangan momen, Hasan langsung aja menyambar satu bungkus pembalut yang kemasannya berwarna pink.

Setelah yakin dengan yang dia pegang, dengan segera kekasih Vero ini berjalan secepat mungkin ke arah kasir. Sepanjang perjalanan menuju kasir, Hasan tertunduk malu. Berharap tidak seorang pun tahu apa yang sedang dia pegang saat ini. Sesampainya di kasir, dia dikagetkan oleh suara penjaga kasir yang tidak jelas.

"Selamat pagi!"

"Nada bicara ini, suara cowok yang dicewek-cewekkan. Jangan-jangan." Dan, ternyata benar, sang kasir adalah seorang transgender. Cowok yang seneng dandan bak seorang cewek.

"Lagi belanja apa, Mas?" ucap sang kasir dengan nada yang aneh.

"Eh... ah... bukan apa-apa," Hasan gugup.

"Oh... beli kayak ginian toh. Buat pacarnya, Mas."

"Bukan, itu, anu..."

"Hmm, tenang aja gak papa kok. Aku juga sering pake ginian kok, Mas," ucap sang kasir genit sambil mengedipkan matanya genit. Hasan terdiam tak bergerak. "Semua dua belas ribu lima ratus," sang kasir sekarang menjulur-julurkan lidahnya.

Hasan berusaha tidak melihat apa yang ada di depannya sekarang sambil mengluarkan uang dua puluh ribuan. "Ini kembaliannya. Makasih ya, Mas," tangan Hasan dibelai perlahan. Uang kembalian sudah di tangan, Hasan pun langsung lari sekuat tenaga.

Begitu keluar dari mini market, Hasan merasa terbebas dari segala kecemasannya dan berteriak layaknya pejuang pulang dari medan perang. "Vero cintaku, abang berhasil!!"

Minggu, 07 September 2008

Menjadi Pacar Dalam Sehari


Menjadi Pacar Dalam Sehari

Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah ...

Pagi buta gini kok ada yang muter lagu. Dengan terpaksa aku bangun, mencari sumber lagu itu berasal. Ternyata, suaranya berasal dari pojok tempat tidurku, bukan orang gila yang muter lagu pagi buta gini. Tetapi, suara dari ponselku. Ada SMS masuk.

Met pagi kak,.. =)

Egi gila! Pagi buta gini SMS yang nggak jelas. Aku pun me-reply SMS dari Egi. Gila.

Kok gila sih kak? Normal kan kalau aku ngucapin met pagi buat kakak ?!!

Kalau kamu ngucapinnya niat sih, gak papa dodol. Kalau jam 3 pagi kayak gini, selain gila, kamu emang kurang kerjaan!!!

Kalau aku ngeladenin SMS Egi, bisa-bisa aku yang malah jadi gila. Tuh anak nggak akan pernah berhenti ganggu sampai aku benar-benar marah. Lebih baik aku lanjutin tidurku aja. Nanti masih ada kuliah pagi.

* * *

"Okay class, now I will give you..."

Lagi-lagi tugas, sejak pertama aku ikut ekstra Conversation Club yang ada cuma tugas dan tugas. Aduh ... mana perutku mulai dangdutan, tadi nggak sempat makan karena selesai kuliah harus ke warnet ngerjain tugas kelompok. Hanya karena aku nggak bisa pakai internet, jadi dapat tugas nyatat bahan makalah deh. Ngantuk banget lagi.

"Sorry Mam I'm late,"

"You're always late!" kata Mam Citra sambil diikuti tawa siswa yang lain.

Kalau udah tabiat telat, ya mau digimanain juga akan tetap telat. Penyebabnya adalah makhluk itu, Egi yang nyebelin. Egi duduk di bangku kosong yang ada di sebelahku. Selalu dan selalu, kenapa sih dia selalu memilih duduk di sebelahku? Bukan merasa nyaman, yang ada juga cuma ganggu konsentrasi orang. Huh, sebel!

"Hey, Sis," sapa Egi.

"My name is Citra, not Sis!" jawabku.

"Maksud aku Sister, kamu kan kakak aku!"

"Enak aja. Sejak kapan aku jadi kakakmu? Lagian aku juga nggak mau punya adik yang nyebelin kayak kamu."

"Nggak masalah kalau kakak nggak mau punya adik kayak aku, Tapi, aku mau kok punya kakak yang jutek kayak kamu."

"Hey?!" Aku menatapnya dengan tajam. Dasar, Egi ngetawain aku.

Aku sempat melirik ke arah Egi. Dia tampak serius mendengarkan pertanyaan dari Mam Citra. Kalau dilihat-lihat, anak ini cakep juga, manis banget. Tapi, nyebelinnya minta ampun deh.

* * *

Selesai kuliah aku, menuju ruang conversation. Aku mendekati kerumunan orang yang sedang memperhatikan pengumuman di mading. Aku mencari namaku satu per satu dari daftar nama yang ada. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kenal.

"Kakak lulus kok," kata Egi.

"Tahu dari mana?" tanyaku kurang yakin.

"Tuh, urutan ke- 9, Amanda Putri LULUS" tunjuk Egi.

"Kamu sendiri lulus?" tanyaku.

"Ya iyalah, Egi pasti lulus dong,"

"Kumat lagi deh sombongnya," aku berbalik menjauhi kerumunan orang.

"Kak tunggu," Egi mengejarku.

"Apa?"

"Kakak ada acara?"

"Kenapa?"

"Conversation Club-nya kan udah selesai tuh dan kita sama- sama lulus. Gimana kalau kita bikin acara perpisahan kecil-kecilan? Mau ya Kak?" rayu Egi.

"Kapan? "

"Terserah kakak aja."

"Oke deh, nanti aku hubungin kamu".

* * *

"Tahu dari mana tempat kayak gini? bukannya kamu nggak punya pacar?" tanyaku pada Egi. Kalau tempatnya di sini, gak pantes buat acara perpisahan. Adanya juga untuk ngerayain Valentine. Meja dengan setting candle light dinner.

Lampu-lampu yang romantis. Seharusnya, Valentine kemarin aku ada di sini dengan Aldo. Bukan sekarang ini dengan Egi. Nanti orang-orang malah mengira aku pacaran sama Egi, sama berondong, ampun deh.

"Kalau kakak nggak nyaman, kita bisa pindah ke tempat yang lain kok," tawar Egi.

"Nggak usah, aku suka kok di sini," jawabku. Aku nggak mau mengecewakan Egi. Lagian selama pacaran dengan Aldo, aku gak pernah candle light dinner berdua kayak gini. Aldo emang beda dengan Egi.

"Aku boleh tanya gak?" tanya Egi di sela-sela acara makan kita.

"Tumben tanya? Biasanya, kalau mau ngomong, kamu suka asal nyerocos tanpa mikir tanggapan dari orang,"

"Boleh tanya nggak? Jawabnya malah panjang lebar gitu."

"Kok marah sih, ya bolehlah."

"Kalau ada yang suka sama kakak, gimana?"

"Gimana apanya?"

"Tanggapan kakak?"

"Ya nggak maulah!! Aku kan udah punya Aldo".

"Kalau aku yang suka sama kakak?"

"Apalagi orang kayak kamu. Ogah!!" jawabku.

"Kenapa?" tanya Egi serius.

"Karena kamu aneh, jahil, suka marah-marah nggak jelas,"

Aduh, Egi kok serius banget sih. Egi terus menatapku. Sepertinya, dia ingin jawaban yang lebih meyakinkan.

"Seperti yang aku bilang tadi, Aku punya Aldo," jawabku serius.

"Udah dong Gi, senang banget sih kalau ngerjain aku"

Sebenarnya, aku juga punya sedikit perasaan sama Egi. Aku nyaman kalau ada di dekat dia. Aku bahagia. Aku senang dengan semua perhatian dari dia. Tapi, aku juga masih sayang sama Aldo, bagaimanapun sikapnya terhadap aku.

"Jangan gila deh Gi, kamu tuh aneh. Jadi, aku gak akan mau pacaran sama kamu," aku berusaha membuat pembicaraan ini nggak terlalu serius. Aku nggak tahu haras ngomong apa lagi.

"Kalau kakak nggak punya Mas Aldo, nggak punya pacar? Kakak pasti mau pacaran sama aku?" tanya Egi sambil memakan es krim yang barusan di antar pramusaji. Plus senyum ge-er-nya. Nih anak bener-bener aneh.

"Justru itu, walaupun aku nggak punya pacar, walaupun kamu satu-satunya cowok di dunia ini, aku yakin aku gak akan pernah mau pacaran sama kamu."

"Kakak yakin?"

"Ya dong, kamu tahu kenapa? Karena kamu lebih muda dari aku. Aku gak mau pacaran sama anak kecil, apa kata dunia?"

"Cuma beda setahun aja. Lagian usia gak menjamin kedewasaan seseorang kan kakak?"

"Iya, aku tahu. Tapi, tetap status umur kan beda!!"

"Gini aja deh, aku gak mau membahas ini lama-lama. Sebab, jawaban dan alasanku buat kamu akan tetap sama. Kalau kamu seumuran sama aku, aku pasti mau... Pacaran sama kamu adik kecil," ujarku. Egi terdiam beberapa saat.

"Beneran kalau aku seumuran sama Kakak, Kakak mau menerimaku menjadi pacar? Kakak nggak bohong?" tanya Egi kemudian.

"Nggak," jawabku.

"Oke deh. Suatu saat aku akan menagih janji Kakak,"

"Iya, tunggu aja sampai kehidupan selanjutnya," aku pun tertawa. Mungkin aja kita seumuran. Aku menghabiskan sesendok es krim vanila terakhirku. Egi pun tersenyum.

***

Tiba-tiba aku ingat Egi. Sudah lima hari ini aku nggak pernah ketemu dia. Kok, jadi ingat Egi. Aku mengambil ponselku, ada SMS.

Kakak gak ngucapin selamat ulang tahun buat aku? SMS dari Egi. Aku melihat ke meja di pojok kamar. Kalender hari ini tanggal 28 Februari 2008. Jadi, hari ini Egi ulang tahun? Kebetulan banget hampir sama dengan hari ulang tahunku. Aku me-reply SMS Egi.

Selamat ulang tahun adik kecil, ...

Nanti mau aku traktir di mana? Sekalian ada yang mau aku tanyain. Balasan dari Egi.

Terserah kamu, karena kamu yang ulang tahun.

Aku jemput? Di tempat perpisahan yang dulu ya?

Nggak usah, ketemu aja di tempat itu.

"Udah lama? Maaf ya telat," kataku.

"Nggak papa, aku juga barusan sampai,"

"Selamat ulang tahun ya Egi,"

"Aku nggak minta yang macam-macam kok sama kamu,"

"Terus apa dong?

"Aku cuma ingin janji?"

Emang aku janji apa?

"Ya, janji kamu beberapa hari yang lalu di tempat ini," Egi berusaha mengingatkan aku, tapi aku gak ngerti maksud Egi. Aku hanya diem, berharap Egi memberi penjelasan.

"Aku mau jadi pacar kamu,"

"Hah? Pacar?? Kan, aku udah bilang Gi," Egi Memotong kata-kataku.

"Iya aku masih ingat, kamu nggak mau pacaran sama cowok yang lebih muda dari kamu, apa kata dunia!"

"Tuh kan masih ingat" aku menyela.

"Sekarang tanggal berapa?" tanya Egi.

"28 Februari 2008"

"Besok tanggal berapa?"

"Tanggal 29 Februari 2008, Anak kecil juga tahu kali,"

"Hari ini umurku sama dengan kakak, 21 tahun,"

Apa? Hari ini Egi seumuran denganku? Pantas aja dari tadi dia nggak manggil aku Kakak, tapi pakai kamu. Bodoh. Kok, aku nggak kepikiran sampai gitu. Jadi, aku harus gimana?

"Tetap gak bisa. Cuma hari ini aja kita seumuran. Besok aku lebih tua lagi dari kamu,"

"Justru itu, hari ini aja. Aku mau kamu jadi pacar aku, sehari ini aja. Besok Kakak ulang tahun, aku jadi nggak bisa seumuran lagi dengan Kakak,"

"Iya deh. Tapi hari ini aja kan?" jawabku. Maafin aku Aldo.

"Tapi, empat tahun lagi aku akan menagih janji Kakak. Setiap empat tahun untuk sehari," ujar Egi.

Kamis, 28 Agustus 2008

CINTA MEMANG MENYAKITKAN

CINTA MEMANG MENYAKITKAN

Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi
sahabat baik.

Mereka berbagi semua dan apapun jg dan menghabiskan waktu bersama

dalam dan setelah sekolah. tetapi hubungan mereka tidak berkembang

namun hanyalah sebatas teman saja.

Echa menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya pada Eldi.:puff013:

dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri..

Echa takut!! takut akan penolakan,takut jika Eldi tidak merasakan

hal yg sama,takut kalau Eldi tidak menerimanya sebagai temannya lg,

takut kehilangan seseorang yg dia merasa nyaman bersamanya.

Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya,

dia mungkin masih bisa bersama, dan dengan harapan

bahwa Eldi-lah yg akan mengatakan bagaimana

perasaanya kepada Echa.
:puff82:

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar

Echa dan Eldi pergi ke arah yg berlainan, Eldi kuliah

keluar negri,sedangkan Echa mendapatkan pekerjaan.

mereka tetap berhubungan dengan surat ,saling mengirimkan foto masing2,

dan saling mengirimkan hadiah.

Echa merindukan Eldi akan kembali,dia telah memutuskan bahwa dia

memiliki kekuatan antuk mengatakan kepada Eldi bagaimana

perasaan cintanya jika Eldi kembali.

Dan tiba2 surat dr Eldi terhenti,Echa menulis kepadanya,

tetapi tidak ada jawaban. dimana dia?apa yg terjadi?

banyak pertanyaan ada di kepalanya .

2thn berlalu dan Echa tetap berharap bahwa Eldi akan kembali

atau setidaknya mengiriminya surat . Dan do'anya terkabul.

Echa menerima surat dr Eldi, dan mengatakan.. .!

"Echa,aku punya kejutan untuk mu...!! Temui aku di bandara pukul 7
malam,
:wahh::wahh:

aku udah nggak kuat ingin menemui mu..Cinta dan cium dari Eldi".

Echa berbunga-bunga. Cinta dan cium
:kiss:. berarti banyak bagi seorang wanita

yg belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata2 itu.

Ketika harinya telah tiba, Echa menunggu dengan cemas.

dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin.

dia mencari Eldi kesana kemari,tapi tak dilihatnya Eldi.

kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru

yang seksi. Dia begitu perhatian melihat Echa.

" Hai ! Aku Angie, temannya Eldi. Kamu Echa khan?"tanyanya.

Echa menganggukan kepala.

"Maaf, aku punya kabar buruk buat kamu,Eldi tidak akan datang,

Dia tidak akan pernah bisa datang lg," kata wanita itu sambil meletakan

tangannya di pundak Echa.

Echa tidak dapat mempercyai hal yg di dengar !! Apa yg terjadi??

Echa bingung,dia amat sangat khawatir sekali wajahnya menjadi pucat.

"Dimana Eldi? Apa yg terjadi padanya?katakan pada ku..."

Echa memohon pada si wanita itu.

Si wanita melihat dengan cermat ke Echa dan dia menepuk pundak Echa

dan dia mengatakan,

"ALAAMAAAKK. .ECHA, INI IKE ELDI...APAKAH IKE TERLIHAT

CANTIK SEKARANG??

AIH...AIIIIH. .. YEY NGGAK BISA NGENALIN IKE LG YAH???

IIHHH....... ..SEBELL DEEEEHH...!! !!"

?????????... ....... Dan kemudian Echa pun langsung
terkapar(terjengkang...) tak sadarkan
diri........ !!!

Wuakkkaaaakkkaaaaak kkk.....kaaakk. ..Serius banget seh bacanya.....
..!!!!!
:haha::haha::haha::haha::haha::haha::haha: :buahaha:

Rabu, 25 Juni 2008

Serangan Mendadak Para Panu

Astaga! Aku terkejut bukan kepalang. Mataku melotot dan hampir aja keluar. Saking tak percayanya dengan apa yang kulihat sekarang. Aku berdiri tepat di depan cermin. Karena belum merasa yakin dengan penglihatanku sendiri, aku lebih mendekatkan kepala ke cermin. Tapi, tetap aja yang aku lihat barusan nggak berubah.

Yah, ada bercak-bercak putih di pundak, leher, dagu, dan entah di mana lagi. Mungkin di punggungku juga ada. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Itu adalah "PANU! Oh, God, sejak kapan panu ini berjokol di sini? Kenapa aku nggak sadar ada panu di tubuhku."

Aku segera meraih selembar kapas dan membasahinya dengan pembersih muka. Aku berharap bercak putih-putih itu hanya sisa noda make-up. Aku menggosoknya kuat-kuat, berharap nodanya hilang. Tapi sampai kulitku terasa panas dan memerah, bercak putih itu tak kunjung hilang.

Aku semakin pusing. Aku ambil kapas baru lagi. Kali ini aku membasahinya dengan alkohol sampai kapasnya benar-benar basah. "AAUWW!" Perih sekali saat kapas penuh alkohol itu menyentuh kulitku. Tapi, aku tidak peduli. Aku terus menggosok-gosok kulitku dengan frustrasi. Sampai tanganku pegal dan kelelahan. Sekarang kulit di leherku tidak hanya merah, tapi malah lecet.

Aku semakin stres. Bagaimana bisa kuliah dengan kondisi seperti ini. Bisa habis nanti kalau sampai semua teman tahu aku punya panu. Mereka pasti ngeledek habis-habisan. Aduh, gimana dong! Aku berjalan cepat menyusuri koridor menuju kelas. Sedapat mungkin aku menghindari tempat-tempat di mana teman-teman biasa nongkrong.

Aku tidak sanggup ketemu mereka saat ini. Penampilanku saat ini persis seperti orang sakit. Pakai sweeter yang kerahnya ke atas agar bisa menutupi leher. Itu dipadu dengan syal rajutan yang kulilitkan di leher sampai daguku ikut tertutup. Aku sampai di kelas dan masih sepi.

Fiuh... Aku lega. Seenggaknya untuk setengah jam ke depan, sebelum kelas dimulai. Aku duduk di bangku paling pojok belakang dan mulai berpikir. Siapa kira-kira yang paling berpotensi menularkan panunya padaku. Sebab, nggak mungkin panu ini muncul tanpa ada yang menulari.

Aku kan orangnya perfect banget. Baik soal menjaga kebersihan badan maupun pakaian. Jadi, nggak mungkin ada panu mampir ke badanku yang superbersih ini. Tadi sudah aku periksa semua badan anggota keluargaku. Papa, mama, juga kakak nggak ada seorang pun yang punya panu.

Arrgg!! Aku semakin frustrasi. Aku pukul-pukul bangku di depanku untuk melampiaskan kekesalan. Saat itu kulihat ada seseorang yang masuk ke dalam kelas. Seseorang yang membuatku lebih frustrasi lagi kalau melihatnya. Aku diam saja, pura-pura tidak melihatnya. Kulirik jam di tanganku, 10 menit lagi kelas akan dimulai. Itu berarti sebentar lagi kelas ini dipenuhi mahasiswa. Juga, menuntut jawaban kenapa aku berpakaian kayak orang sakit bengek begini.

Aku melirik cowok yang masuk tadi. Dia diam saja duduk di bangku pojok depan dekat pintu masuk. Dia tampak sibuk menulis di bukunya, entah lagi nulis apa. Aku sama sekali tidak peduli. Ta... tapi... tunggu, tunggu... Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Dua hari lalu aku pingsan pas lagi ada acara bakti kampus. Trus waktu sadar, aku lihat Maya ngerawat aku pake handuk kecil yang jelas bukan handuk aku. Itu handuk siapa? Nah, ketemu sekarang! Pasti handuk itulah biang keroknya.

Sekarang aku harus menginterogasi si Maya. Aku melihat jam di tanganku lagi. Sebentar lagi mereka pasti masuk ke dalam kelas. Benar saja, semenit kemudian Maya and the gank masuk. Persis seperti dugaanku, mereka langsung mengguyur dengan pertanyaan saat melihatku.

"Nu, kamu kenapa? Kamu sakit, ya, Nu?" tanya Maya penuh kecemasan.

"Perasaan kemarin kamu baik-baik aja, Nu, kenapa sekarang tiba-tiba sakit?" tanya Feril sama cemasnya.

Belum lagi yang lain, pake megang-megang mukaku sok ngecek suhu tubuhku. Arrrgg... aku menepis tangan-tangan itu. Kutarik tangan Maya mendekat ke arahku. Tapi, belum sempat membuka mulut, tiba-tiba terdengar seseorang bicara dan membuatku shock.

"May, handuk yang habis kamu pakai kemarin ditaruh mana?" Saat menyadari siapa yang bicara, mulutku langsung kaku. Tidak bisa bicara apa-apa. Ja... jadi, itu handuknya si...

"Oh, udah aku cuci, kok. Tadi aku titip ke Tio. Habis dan tadi aku cariin kamu nggak ketemu." jawab Maya.

"Thanks, ya," kata si pa. . .nu... dan langsung balik ke bangkunya tanpa melihat sedikit pun ke arahku. Uhg, sombong, sok kecakepan. Tapi masak sih, dia punya panu dan... nular ke aku.

"Huaah! Nggak mungkin, Nggak mungkin!" Tanpa sadar aku teriak-teriak histeris. Membuat seisi kelas melihat ke arahku, termasuk Pak Waski. Sadar telah berlaku konyol, aku celingukan sambil meringis yang menurutku sendiri lebih mirip cengiran kuda.

"Huuu..." Kelas langsung gemuruh.

"Nu, besok kamu datang, kan ke pesta Anya?" tanya Maya penuh semangat.

Tapi, aku mendengarnya dengan tidak semangat. Gila. Gimana bisa datang dengan badan penuh panu begini. Kan malu namanya atau mau pamer panu?

"May, jadi handuk yang kamu pakai untuk ngerawat aku kemarin lusa itu handuknya orang brengsek itu?"

"I... iya, emang kenapa?" aku menghela napas. Diam.

"Habis, waktu itu aku panik banget lihat kamu pingsan. Lagian yang nolong kamu kali pertama kemarin lusa itu si Andre, kok." Aku semakin shock.

"Dia yang nemuin kali pertama pas kamu pingsan. Malah dia lebih panik daripada aku. Dia gendong kamu sambil lari dari pintu gerbang sampai ke klinik di gedung D. Kamu bayangin, jarak pintu gerbang sampai klinik, kan hampir satu kilo. Trus sampai di klinik, dia sendiri yang ngerawat kamu, ngipasin kamu, ngelap muka kamu, leher kamu, trus ngasih kamu minyak kayu putih, alkohol, wah dia benar-benar kayak Superman waktu itu. Hebat banget."

"Emang kamu ke mana, kok nggak nolongin aku?!" Aku benar-benar tidak tahan mendengar semua ocehan Maya yang penuh semangat 45 nyeritain kepahlawanan si brengsek itu.

"Aku, aku ada di samping kamu, kok. Tapi aku shock, bingung mau ngapain. Tapi, pas kamu udah mulai bergerak, dia langsung nyerahin semuanya ke aku dan pergi gitu aja." Jadi benar, panu ini berasal dan cowok brengsek itu. Orang yang paling menyebalkan, memuakkan, dan aku benci. Sekarang tiba-tiba panunya nular ke aku.

Saat ini rasanya aku ingin ambles. Masuk ke perut bumi yang paling dalam dan nggak keluar-keluar lagi. Aku menangis sejadi-jadinya di belakang gedung D. Karena aku pikir cuma tempat itulah yang paling aman untuk nangis.

Aku jongkok dan menutupi mukaku dengan tangan. Aku sesenggukan. Saat itulah tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku terkejut setengah mati, aku pikir ada hantu mendekat. Si brengsek dengan santainya menyodorkan sapu tangannya ke aku. Serta-merta aku menepisnya dan bangkit untuk segera meninggalkannya.

Tapi, dengan sigap tangannya menyambar pergelangan tanganku. Walau sudah sekuat tenaga mengibas-ngibaskan tanganku agar terlepas, tetap aja gagal. Cengkeramannya terlalu kuat. Kemudian dia ikut bangkit dan berdiri di hadapanku.

"Apa, sih, mau kamu? Belum puas juga kamu nyakitin aku? Apa masih mau ditambah lagi?! Masih mau menghina aku lagi?!" Dia diam tidak menjawab.

Hanya matanya yang terus menatap ke arahku. Tajam tapi juga lembut, menembus langsung ke ulu hatiku. Jantungku jadi blingsatan tak karuan. Kata-kata yang tadinya sudah aku susun rapi dan siap aku tumpahkan ke mukanya mendadak lenyap.

Mulutku gagu. Sejurus kemudian, di luar dugaan, mendadak dia merengkuh kepalaku dan membenamkannya ke dalam dekapannya. Aku berontak berusaha untuk melepaskan. Tapi, tangannya terlalu kuat memelukku. Sampai dadaku ikut sesak. Akhirnya aku pasrah dan menangis dalam pelukannya.

"Maaf, sudah membuatmu benci sama aku. Aku sayang sama kamu." Aku terkejut karena tidak yakin apa yang diucapkannya barusan. Sebab, sikapnya selama ini beda banget dengan sikapnya sekarang. Apa dia mau mempermainkan aku lagi?

"Tapi, sayangnya panuku tidak kompak. Dia tidak sabar untuk menyampaikan perasaanku sama kamu."

"Kamu nggak malu, kan, punya pacar yang panuan?" Aku tidak tahan untuk tidak ketawa. Melihat aku tertawa, dia pun ikut tertawa.

Cuma karena panu, dia malu untuk menyatakan cintanya sama aku. Dia lebih memilih bersikap dingin dan acuh sama aku. Sekarang berkat jasa panu juga, akhirnya kami bisa saling jujur dengan perasaan masing-masing dan bisa menjalin kasih.

Menunggu saat Bintang Jatuh

LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam dengan anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang jatuh.

Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk satu permintaan. Ah, kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain?

Seandainya bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang. Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam.

Sayang, saat ini, aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah, tinggi di awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan.

Aku terlahir sebagai bocah desa biasa, anak buruh tani. Kedua orang tuaku tak lulus SD, begitu juga kedua kakak perempuanku. Mereka menikah di usia yang masih sangat belia, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak, suami, dan dapur.

Status yang menurutku benar-benar rendah dan aku tak mau seperti mereka. Adalah Pak Ahmad, kepala desaku yang menjadi kepanjangan tangan Tuhan mengubah seluruh duniaku. Beliau mengangkatku menjadi anak asuhnya sejak aku SD karena terkesan dengan prestasi belajarku saat aku menjadi juara 1 lomba cerdas cermat se-kecamatan.

Sejak saat itu, beliau menanggung semua biaya pendidikan, termasuk semua keperluanku. Aku tak pernah kekurangan apa pun. Semua yang aku mau, sekarang aku minta, esok pagi saat aku baru membuka mata, pasti aku telah mendapatkannya. Aku cantik, setidaknya aku primadona desa. Aku juga sudah memiliki belahan hati yang telah kuyakini adalah jodohku. Laki-laki tersebut bernama Awan. Itu yang dulu aku namai keberuntungan.

Aku menikmati semua anugerah Tuhan tersebut. Tapi, saat ini tidak demikian, aku berharap ada bintang jatuh, berharap mitos tentangnya benar. Satu keinginan yang ingin aku minta adalah aku tak ingin jadi diriku sekarang. Aku ingin menjadi Sekar, gadis desa anak Pak Kardi dan Ibu Karmi, buruh tani yang tak lulus SD. Aku ingin seperti Mbak Gendis dan Mbak Elok.

Semua masih biasa saja sampai kemarin, namun sebuah kejadian tadi siang benar-benar menjungkir balik duniaku. Seharusnya, siang ini menjadi saat paling indah dalam hidupku. Sebulan yang lalu, Awan mengungkapkan niat untuk melamarku dan aku setuju. Aku telah merangkai jutaan angan tentang masa depan kami, tentang rumah mungil yang hangat. Tentang bayi-bayi lucu yang kelak menjadi calon profesor.

Sebuah hal yang tak aku duga, ternyata, merusak segalanya. Kedatangan Awan hari ini tak kunyana tak mendapatkan sambutan baik dari bapak angkatku. Beliau menolak mentah-mentah niat Awan untuk meminangku. Bahkan, beliau bersumpah tidak akan menyetujui hubungan kami sampai kapan pun. Aku tak pernah melihat bapak semarah itu, tidak sama sekali sejak 11 tahun aku mengenal beliau.

Tapi, hari ini malaikat itu berubah menjadi monster paling menakutkan. Semua tak seperti kemarin lagi. Dunia tak lagi indah bagiku, meski langit sedang berpesta di atas sana. Hatiku terasa jauh lebih sakit saat tadi sore, setelah bencana itu, aku pulang ke rumah orang tua kandungku. Aku menceritakan semuanya, namun tak memperoleh pembelaan di sana. Di rumah orang tua yang telah melahirkanku.

"Kamu sudah dewasa, kamu sudah jadi wong pinter nduk, dan semua itu karena jasa Pak Ahmad, bapak angkatmu. Jangan jadi anak durhaka Sekar, mintalah maaf kepadanya dan turuti apa yang beliau minta." Hatiku sakit mendengar kalimat itu, ringan keluar dari bibir ibu, wanita yang mengandung dan melahirkanku. Meski tanpa melihat wajah beliau, aku tahu tak ada beban dari nada suaranya. Ah ibu, apa benar tak ada lagi cintamu untukku?

Langit masih bertabur bintang di atas sana, masih menyiratkan keindahan alam awang-awang nun tak terjamah. Angin malam mulai membuatku menggigil. Aku baru sadar, aku tidak sedang di rumah Pak Kepala Desa yang megah dan hangat. Namun, aku sedang meringkuk di sudut balai desa tak berdinding, tanpa alas, dan tanpa teman.

Aku tak tau apakah bapak angkatku saat ini sedang sibuk mencariku atau hanya diam di rumah menungguku pulang sendiri. Meminta maaf kepadanya, lalu dengan santun mengatakan bahwa aku akan ikhlas menerima apa pun yang beliau mau.

Baru kali ini aku tahu betapa berharga sebuah kemerdekaan dan kebebasan menentukan pilihan sendiri. Andai aku bisa, aku ingin kembali ke masa lalu, aku tak ingin mengenal seseorang yang pernah aku anggap malaikat itu. Tak apalah aku hanya menjadi gadis desa yang bodoh, seperti yang lain, hidup bersama Awan.

Awan, mengingatnya kembali membuat dadaku sesak. Aku bodoh, aku lemah, dan aku tak mampu melawan. Kuintip lagi langit yang tampak jelas dari tempatku menyudut, tetap semarak meski sangat sepi. Pasti sudah lewat dini hari, kelengangan meraja.

****

Silau mentari menerpa wajahku, aku menyipitkan mata karenanya. Hari sudah terang. Aku tersentak kaget saat menyadari ada seseorang di dekatku. Bapak? Bagaimana bisa orang yang kuhujat semalaman itu tiba-tiba duduk di dekatku. Sebuah sarung kotak-kotak warna hijau menyelimuti tubuhku.

Aku kenal betul benda itu, sarung yang sengaja aku beli untuk Bapak saat aku liburan ke Jogja dulu. Bapak selalu mengenakannya. Air mataku meleleh melihat malaikat itu tertidur dalam posisi duduk. Pastilah tulang-tulang tua tersebut memberinya rasa pegal dan sakit yang menyiksa. Tiba-tiba aku merasa sangat berdosa kepadanya. Bapak, maafkan aku.

"Jangan menangis cah ayu,...jangan cengeng.." Rupanya, isak tangisku mengusik tidur beliau. Tangan tuanya yang keriput mengusap air mata di pipiku. Aku makin tersedu.

"Bapak tahu kamu sangat marah sama Bapak karena kejadian kemarin...." Suara datar penuh wibawa itu terdengar sangat halus.

"Bapak tak akan melarangmu menikah dengan siapa pun. Kamu bebas memilih, kamu telah dewasa, bahkan sebentar lagi kamu akan sah jadi sarjana, yang pertama dan satu-satunya di desa ini. Tapi, jangan dengan anak bajingan itu, sampai mati pun bapak tak rela.." Aku memilih diam, aku hanya terisak dan semakin terisak. Aku pasrah saja saat bapak angkatku itu menuntunku pulang.

****

Seminggu sudah bencana itu berlalu, aku memilih patuh kepada Bapak. Sudah seminggu pula, aku menghabiskan malam tanpa menutup mata. Berdiam diri di balkon kamarku sambil menatap langit berharap dapat menemukan bintang jatuh. Malam ini, kupastikan tak ada bintang jatuh, hujan sudah mengguyur bumi mulai sore tadi. Tapi, aku tetap seperti hari-hari sebelumnya.

"Nduk Sekar, dipanggil Bapak," suara Mbok Jah terdengar dari balik pintu kamarku.

"Ya Mbok, terima kasih," jawabku acuh tanpa membuka pintu

"Nduk, dipanggil Bapak," Mbok jah mengulangi panggilannya.

"Iya..iya.., bentar!!!" sambil membuka pintu kubentak wanita sepuh itu.

"Maaf nduk, tapi Bapak sedang sakit. Beliau ingin bertemu dengan Nduk Sekar."

"Sakit? Sakit apa? Sejak kapan Mbok? Sepertinya, kemarin-kemarin aku melihat Bapak sehat-sehat saja?" aku menghujani pertanyaan kepada Mbok Jah sambil melangkah menuju kamar Bapak. Pintu kamar itu terbuka sebagian, dari luar aku sudah dapat melihat wajah Bapak. Pucat dan lemah.

"Bapak kenapa?? Bapak...." aku menjerit histeris sambil memegangi tangan Bapak.

"Jangan menikah dengan anak Surya, Sekar. Berjanjilah pada Bapakmu ini,....berjanjilah," suara itu samar, hampir tak terdengar tapi sangat menghujam jantungku. Refleks aku mengangguk.

"Aku berjajni Bapak, aku berjanji,...."

****

Hari ini aku terpaku menatap gundukan tanah yang masih basah. Semerbak bau kembang terbawa angin bersama debu dan daun kering. Di bawah sana, malaikat sekaligus monster itu terbaring untuk selamanya meninggalkan janji yang sangat berat di pundakku.

Di seberang sana, aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Awan terpaku di bawah pohon kamboja. Seakan memintaku untuk mendekatinya. Aku ingin berlari ke arahnya menumpahkan kerinduanku. Tapi, janji yang aku ucap semalam kepada jasad yang tertidur di bawah nisan ini merantai kakiku. Aku memilih untuk meninggalkan tempat itu, tanpa menegur atau sekadar membalas tatapannya.

Nyawaku tak utuh lagi. Mungkin pergi bersama Bapak atau tinggal bersama Awan yang masih terpaku di bawah pohon kamboja. Janji adalah utang. Kepada beliau, aku tak hanya utang janji, tapi juga utang budi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu, meski untuk sebutir pasir sekalipun. Jika itu harga yang harus aku bayar, akan aku lakukan. Aku memang tak yakin bisa hidup tanpa Awan.

Tapi, aku telah memilih untuk menepati janjiku kepada Bapak. Biarlah takdir sendiri yang menentukan jalan kami. Seperti bintang yang patuh untuk turun ke bumi saat Sang Mahakuasa menghendakinya demikian.

Dendamlah yang membuat Bapak sangat membenci Pak Surya, orang tua Awan. Bapak sangat meyakini bahwa kematian istri dan putri tunggalnya, Mbak Lastri, adalah karena teluh yang dikirim Pak Surya yang kala itu kalah pemilihan kepala desa.

Bapak sangat meyakini itu benar. Meski diagnosis dokter mengatakan bahwa mereka meninggal karena DBD. Saat itu, memang desa ini sedang diserang wabah DBD. Namun, karena kejadian tersebut hanya berselang satu hari setelah kemenangan Bapak, beliau meyakini ada kekuatan lain yang merenggut nyawa dua orang keluarganya itu hingga meninggal secara bersamaan. (*)

Bando Pelangi Milik sang Putri

Oleh Raskandya Putranaya

Di kota sebesar ini, pelangi berani menampakkan diri. Warna alami itu berasal dari...?! Kusarankan, pertanyaan yang belum selesai tersebut lebih baik dijawab dengan imajinasi. Imajinasi anak-anak lebih tepatnya. Sebab, tak baik bicara pelangi di kota metropolitan ini. Pantangan masyarakat. Tabu, tidak baik sekaligus tidak benar menurut KTP. Kartu yang tak perlu diragukan lagi kesaktiannya, meski kini sudah hampir kurang jelas antara apa yang menandai dan yang ditandai.

Siapa pun tahu, tabu bagi kota ini adalah segala hal yang berbau melankolis. Tabu bukan lagi permasalahan mens ataupun seks. Sebab, seks dan mens dapat menjadikan seseorang cepat dewasa.

Sedangkan sedalam-dalamnya menalar melankolis selalu saja mengembalikan diri kita ke masa lalu. Kehadiran pelangi secara tiba-tiba inilah yang membuat kedua adikku sejenak menghentikan perdebatan asmara.

Pelangi telah mengembalikan masa lalu kami. Masa lalu bersama dongeng-dongeng. Dongeng para nenek. Aku masih ingat waktu itu nenek pernah bilang bahwa pelangi adalah bando yang hilang milik seorang putri. Putri tersebut selalu menangis bila ingat bandonya.

Para abdinya mencoba menenangkan sang putri. Mereka juga meramalkan bahwa suatu saat nanti ada seorang pangeran yang akan mengembalikan bandonya. Tapi, selama bertahun-tahun menunggu, bertahun-tahun pula dia menangis. Ternyata, ramalan itu tidak juga menjadi benar.

"Kak, ada apa senyum-senyum sendiri?" adik bungsuku menegur adikku yang lain

"Nenek benar, Dik."

"Benar apanya?" Adik bungsu bertanya lagi.

"Kita telah menemukan bando putri yang hilang, maka kita bisa menjadi seorang putri."

Aku suka canda mereka. Bayangkan sebelum pelangi menampakkan diri, sebenarnya mereka banyak berdebat. Tapi, kini mereka bersahabat. Sebagai kakak tertua, aku senang melihat mereka bisa sama-sama bahagia.

Sore hari, gradasi pelangi yang datang bersama hujan hampir pergi ditelan malam. Malam nanti malam minggu. Biasanya, kedua adikku akan pergi untuk malam mingguan. Mereka berlari. Siapa pun pasti tahu ke mana arah perempuan berlari saban sore. Pasti melakukan rangkaian mandi, bersiap-siap, berdandan, dan mematut busana kencan. Lagi pula sekarang kan malam Minggu.

Aku masih berada di teras ketika mereka mandi. Suasana terasa tenang tanpa suara-suara mereka. Ketika kupandangi langit, aku tak bisa melihat pelangi lagi. Barangkali sudah terlalu lama aku melamun di teras sampai tidak kulihat di depanku ada dua putri cantik.

Mereka sudah bersiap-siap pergi, mungkin ke pesta dansa seperti Cinderella atau sekadar makan malam yang hanya diterangi lilin-lilin. Aku tidak tahu pasti. Namun, menurutku, hanya itu alasan perempuan berhias di malam Minggu. Adikku yang bungsu berangkat lebih dulu. Dia dijemput kekasihnya.

Tak berselang lama, adikku yang kedua juga berangkat. Dia juga dijemput pacarnya. Aku berpesan kepada mereka untuk hati-hati. Karena hari ini mereka tampak seperti putri, aku juga mengingatkan agar tidak meninggalkan sepatunya.

Teras semakin sepi. Dalam sepi, aku telah melupakan angan-angan masa kecil itu. Lagi pula, pelangi sudah habis dimakan malam. Aku memang tidak terlalu mengharapkan mimpi menjadi seorang pangeran karena aku benar-benar sudah senang melihat kedua adikku bisa senantiasa tersenyum manis padaku.

Aku duduk di bangku, membaca buku, begitu caraku mengalihkan pikiran tak perlu. Di luar kudengar suara mobil mendekat, ternyata, berhenti di depan pagar rumah. Itu adikku yang kedua. Dia masuk rumah dengan muka cemberut. Apa yang terjadi dengannya, padahal dia berangkat lebih awal dari adikku yang bungsu?

"Mir," aku mencegatnya di teras. "Kok sudah pulang?"

"Nanda belum pulang, Kak?" dia balik bertanya.

"Belum, emangnya kenapa?"

"Aku ingin bicara sama Nanda."

"Bicara saja sama kakak."

Mira memang lebih sering curhat dengan Nanda. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan. Aku tahu tidak baik bila memaksanya. Aku biarkan Mira diam. Mira masuk ke dalam rumah, kemudian tak lama dia kembali ke teras. Seperti tadi, dia belum mau menceritakan masalahnya kepadaku.

"Kak," Akhirnya dia cerita juga, mungkin terlalu lama dia menunggu Nanda. Kesempatan itu kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku berusaha menempatkan diri sebagai sahabatnya. Pembicaraanku dengannya membuat aura kesedihan melekat jelas di wajahnya. Dia sedikit menangis.

Awalnya, tangis itu membuatku merasa bersalah. Tapi, aku tahu air mata baik untuk menghilangkan kepedihan-kepedihan. Di tengah-tengah keheningan teras dan cerita kita, aku melihat Nanda pulang. Sekarang masih jam delapan. Jam segini di kota metropolitan masih jam aktif. Aku khawatir kejadian yang menimpa Mira juga menimpanya.

"Sudah pulang Dik?" sapaku. Mira menunduk tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya. Aku paham alasan Mira menunduk.

Nanda melangkah cepat, lalu memelukku. Aku tersentak. Mira melihat ke arah kami. "Ada apa Dik?" dia bertanya. Setelah isak tangis Nanda mereda, kami bertiga bicara. Kali ini pembicaraan di antara kami disertai pula dengan hati.

Kini aku tahu adik-adikku sedang bermasalah dengan asmara. Kali ini sisi duka mengakrabi mereka. Aku tak kuasa melihat mereka dalam keadaan seperti itu. Andai saja bisa, aku mau menggantikan posisi mereka. Sebab, bagi seorang kakak, kebahagiaan adik-adiknya paling utama.

"Dik," Mira berbicara kepada Nanda. "Ternyata pelangi yang kita lihat tadi itu bukan bando milik putri. Ternyata, kita belum menemukan bando itu."

"Ya, Kak."

Aku berusaha mementahkan anggapan itu. Aku yakin, meskipun air mata menetes di pipi mereka, aku melihat mereka tak ada berbeda dengan seorang putri. Apalagi bila mereka tersenyum seperti sebelum berangkat tadi.

Siapa pun itu akan selalu mengidamkan untuk berada di sampingnya. Aku yakin seseorang yang menyia-nyiakan mereka kini sedang meratap sesal. Mereka berpelukan.

Sepertinya, mereka salah bila mengira belum menemukan bando seorang putri yang menangis. Ceritakan saja cerita itu kepada nenek. Dia akan mengatakan, "Kakak laki-laki sudah menjadi pangeran bagi adik-adiknya.

Kedua adiknya menjelma sebagai putri di hati sang pangeran. Begitu kiranya nenek akan menutup dongeng untuk cucunya. Selain itu, nenek akan mengatakan, "Sekarang sudah malam, waktunya tidur".