Senin, 30 Juni 2008

pinkan mambo - wanita terindah - 2008

Track List :
1. Kekasih Yang Tak Dianggap
2. Wanita Terindah
3. BCT
4. Kamulah Canduku
5. Merindunya
6. Tak Mungkin Bersatu
7. Jenuh
8. Setangkai Anggrek Bulan
9. Ratu Pesta
10. Bila Masih Ada Kesempatan

download link :

http://www.mediafire.com/?sharekey=b773ea7c82716e83d5a101cf914073b482d9ff1221608b21
or
http://www.mediafire.com/download.php?2y1imznmwm9
http://www.mediafire.com/download.php?o01mmwm9qwb
http://www.mediafire.com/download.php?kq1ngzlpmex
http://www.mediafire.com/download.php?oyxoirjcnyy
http://www.mediafire.com/download.php?1tjqmgod0tg
http://www.mediafire.com/download.php?texsdpomx3i
http://www.mediafire.com/download.php?dg002zaxejh
http://www.mediafire.com/download.php?3mntoz1m0tw
http://www.mediafire.com/download.php?ewmtsy4p3tq
http://www.mediafire.com/download.php?y1xewejgzsp

caramel - tinggal kenangan - 2008



Track List:
01 - Tinggal Kenangan (Feat. Tohpati) (Accoustic Version)
02 - Tinggal Kenangan
03 - Cinta Tanpa Batas
04 - Cerah
05 - Hanya Lelaki
06 - Kuingin Dicintai
07 - Penipu Cinta
08 - Lelah Tanpamu
09 - Pecundang
10 - Taman Langit

download link :

http://www.mediafire.com/?sharekey=b773ea7c82716e83d5a101cf914073b49fef29ce8b78a76d
or
http://www.mediafire.com/download.php?vjljw1ntxj1
http://www.mediafire.com/download.php?gwbtjh41xoo
http://www.mediafire.com/download.php?dnpe4xbnyj3
http://www.mediafire.com/download.php?le4mnoeyr0k
http://www.mediafire.com/download.php?xz34flbjnfj
http://www.mediafire.com/download.php?y0hkoyqm0sy
http://www.mediafire.com/download.php?dndmmtmm1nv
http://www.mediafire.com/download.php?mmzgzdyqwhq
http://www.mediafire.com/download.php?jnm013zyj1t
http://www.mediafire.com/download.php?mjewqvmomj1

Rabu, 25 Juni 2008

Inke Prima - Introducing Inke (2008)

Inke Prima - Introducing Inke (2008)

Tracklist :
01. Dasar Plin Plan
02. Ku Cinta Dirimu [Untuk Yang Pertama]
03. KDC [Ku Dimabuk Cinta]
04. Aku Tak Mau Sendiri
05. Arjuna Impian
06. Biduanita
07. Kekasih
08. Kamu
09. Hadiah Terindah
10. You Are My Love

Download Link :




~~Inke Prima-01.DasarPlinPlan

http://www.ziddu.com/download.php?uid=ZqudlZirZbGcmZzzZ6qZnJGla6ebmJusbg%3D%3D5

~~Inke Prima - 02. Ku Cinta Dirimu (Untuk Yang Pertama)

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aa6hmperZrGcnOKnZKqhkZSrYayel5um4

~~Inke Prima - 03. KDC (Ku Dimabuk Cinta)

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aqqdlJirba2aluKnZaqhkZSrYqydl5iq5

~~Inke Prima - 04. Aku Tak Mau Sendiri

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aaqgmZmmbLGiluKnZ6qhkZSrZKydlZim7

~~Inke Prima - 05. Arjuna Impian

http://www.ziddu.com/download.php?uid=Zq6elpyubKqZlJzzZ6qZnJGla6ebmJ2taA%3D%3D5

~~Inke Prima - 06. Biduanita

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aLCglZimaKqelOKnYqqhkZSrX6ydmJmq2

~~Inke Prima - 07. Kekasih

http://www.ziddu.com/download.php?uid=cK2alpelbbGbmpmscPiblJStZaqfkZaqbg%3D%3D8

~~Inke Prima - 08. Kamu

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aq2anZasbLOinJett6yZlJyiabCWlpmr9

~~Inke Prima - 09. Hadiah Terindah

http://www.ziddu.com/download.php?uid=abGdnJularKfluKnYaqhkZSrXqyemZ2u1

~~Inke Prima - 10. You Are My Love

http://www.ziddu.com/download.php?uid=aLGemJyqbq2glpets6yZlJyiZbCWlpmp5

Journey "Revelation"

Journey "Revelation"


~download~

http://www.mediafire.com/?ee0mcyfvlt0

Serangan Mendadak Para Panu

Astaga! Aku terkejut bukan kepalang. Mataku melotot dan hampir aja keluar. Saking tak percayanya dengan apa yang kulihat sekarang. Aku berdiri tepat di depan cermin. Karena belum merasa yakin dengan penglihatanku sendiri, aku lebih mendekatkan kepala ke cermin. Tapi, tetap aja yang aku lihat barusan nggak berubah.

Yah, ada bercak-bercak putih di pundak, leher, dagu, dan entah di mana lagi. Mungkin di punggungku juga ada. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Itu adalah "PANU! Oh, God, sejak kapan panu ini berjokol di sini? Kenapa aku nggak sadar ada panu di tubuhku."

Aku segera meraih selembar kapas dan membasahinya dengan pembersih muka. Aku berharap bercak putih-putih itu hanya sisa noda make-up. Aku menggosoknya kuat-kuat, berharap nodanya hilang. Tapi sampai kulitku terasa panas dan memerah, bercak putih itu tak kunjung hilang.

Aku semakin pusing. Aku ambil kapas baru lagi. Kali ini aku membasahinya dengan alkohol sampai kapasnya benar-benar basah. "AAUWW!" Perih sekali saat kapas penuh alkohol itu menyentuh kulitku. Tapi, aku tidak peduli. Aku terus menggosok-gosok kulitku dengan frustrasi. Sampai tanganku pegal dan kelelahan. Sekarang kulit di leherku tidak hanya merah, tapi malah lecet.

Aku semakin stres. Bagaimana bisa kuliah dengan kondisi seperti ini. Bisa habis nanti kalau sampai semua teman tahu aku punya panu. Mereka pasti ngeledek habis-habisan. Aduh, gimana dong! Aku berjalan cepat menyusuri koridor menuju kelas. Sedapat mungkin aku menghindari tempat-tempat di mana teman-teman biasa nongkrong.

Aku tidak sanggup ketemu mereka saat ini. Penampilanku saat ini persis seperti orang sakit. Pakai sweeter yang kerahnya ke atas agar bisa menutupi leher. Itu dipadu dengan syal rajutan yang kulilitkan di leher sampai daguku ikut tertutup. Aku sampai di kelas dan masih sepi.

Fiuh... Aku lega. Seenggaknya untuk setengah jam ke depan, sebelum kelas dimulai. Aku duduk di bangku paling pojok belakang dan mulai berpikir. Siapa kira-kira yang paling berpotensi menularkan panunya padaku. Sebab, nggak mungkin panu ini muncul tanpa ada yang menulari.

Aku kan orangnya perfect banget. Baik soal menjaga kebersihan badan maupun pakaian. Jadi, nggak mungkin ada panu mampir ke badanku yang superbersih ini. Tadi sudah aku periksa semua badan anggota keluargaku. Papa, mama, juga kakak nggak ada seorang pun yang punya panu.

Arrgg!! Aku semakin frustrasi. Aku pukul-pukul bangku di depanku untuk melampiaskan kekesalan. Saat itu kulihat ada seseorang yang masuk ke dalam kelas. Seseorang yang membuatku lebih frustrasi lagi kalau melihatnya. Aku diam saja, pura-pura tidak melihatnya. Kulirik jam di tanganku, 10 menit lagi kelas akan dimulai. Itu berarti sebentar lagi kelas ini dipenuhi mahasiswa. Juga, menuntut jawaban kenapa aku berpakaian kayak orang sakit bengek begini.

Aku melirik cowok yang masuk tadi. Dia diam saja duduk di bangku pojok depan dekat pintu masuk. Dia tampak sibuk menulis di bukunya, entah lagi nulis apa. Aku sama sekali tidak peduli. Ta... tapi... tunggu, tunggu... Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Dua hari lalu aku pingsan pas lagi ada acara bakti kampus. Trus waktu sadar, aku lihat Maya ngerawat aku pake handuk kecil yang jelas bukan handuk aku. Itu handuk siapa? Nah, ketemu sekarang! Pasti handuk itulah biang keroknya.

Sekarang aku harus menginterogasi si Maya. Aku melihat jam di tanganku lagi. Sebentar lagi mereka pasti masuk ke dalam kelas. Benar saja, semenit kemudian Maya and the gank masuk. Persis seperti dugaanku, mereka langsung mengguyur dengan pertanyaan saat melihatku.

"Nu, kamu kenapa? Kamu sakit, ya, Nu?" tanya Maya penuh kecemasan.

"Perasaan kemarin kamu baik-baik aja, Nu, kenapa sekarang tiba-tiba sakit?" tanya Feril sama cemasnya.

Belum lagi yang lain, pake megang-megang mukaku sok ngecek suhu tubuhku. Arrrgg... aku menepis tangan-tangan itu. Kutarik tangan Maya mendekat ke arahku. Tapi, belum sempat membuka mulut, tiba-tiba terdengar seseorang bicara dan membuatku shock.

"May, handuk yang habis kamu pakai kemarin ditaruh mana?" Saat menyadari siapa yang bicara, mulutku langsung kaku. Tidak bisa bicara apa-apa. Ja... jadi, itu handuknya si...

"Oh, udah aku cuci, kok. Tadi aku titip ke Tio. Habis dan tadi aku cariin kamu nggak ketemu." jawab Maya.

"Thanks, ya," kata si pa. . .nu... dan langsung balik ke bangkunya tanpa melihat sedikit pun ke arahku. Uhg, sombong, sok kecakepan. Tapi masak sih, dia punya panu dan... nular ke aku.

"Huaah! Nggak mungkin, Nggak mungkin!" Tanpa sadar aku teriak-teriak histeris. Membuat seisi kelas melihat ke arahku, termasuk Pak Waski. Sadar telah berlaku konyol, aku celingukan sambil meringis yang menurutku sendiri lebih mirip cengiran kuda.

"Huuu..." Kelas langsung gemuruh.

"Nu, besok kamu datang, kan ke pesta Anya?" tanya Maya penuh semangat.

Tapi, aku mendengarnya dengan tidak semangat. Gila. Gimana bisa datang dengan badan penuh panu begini. Kan malu namanya atau mau pamer panu?

"May, jadi handuk yang kamu pakai untuk ngerawat aku kemarin lusa itu handuknya orang brengsek itu?"

"I... iya, emang kenapa?" aku menghela napas. Diam.

"Habis, waktu itu aku panik banget lihat kamu pingsan. Lagian yang nolong kamu kali pertama kemarin lusa itu si Andre, kok." Aku semakin shock.

"Dia yang nemuin kali pertama pas kamu pingsan. Malah dia lebih panik daripada aku. Dia gendong kamu sambil lari dari pintu gerbang sampai ke klinik di gedung D. Kamu bayangin, jarak pintu gerbang sampai klinik, kan hampir satu kilo. Trus sampai di klinik, dia sendiri yang ngerawat kamu, ngipasin kamu, ngelap muka kamu, leher kamu, trus ngasih kamu minyak kayu putih, alkohol, wah dia benar-benar kayak Superman waktu itu. Hebat banget."

"Emang kamu ke mana, kok nggak nolongin aku?!" Aku benar-benar tidak tahan mendengar semua ocehan Maya yang penuh semangat 45 nyeritain kepahlawanan si brengsek itu.

"Aku, aku ada di samping kamu, kok. Tapi aku shock, bingung mau ngapain. Tapi, pas kamu udah mulai bergerak, dia langsung nyerahin semuanya ke aku dan pergi gitu aja." Jadi benar, panu ini berasal dan cowok brengsek itu. Orang yang paling menyebalkan, memuakkan, dan aku benci. Sekarang tiba-tiba panunya nular ke aku.

Saat ini rasanya aku ingin ambles. Masuk ke perut bumi yang paling dalam dan nggak keluar-keluar lagi. Aku menangis sejadi-jadinya di belakang gedung D. Karena aku pikir cuma tempat itulah yang paling aman untuk nangis.

Aku jongkok dan menutupi mukaku dengan tangan. Aku sesenggukan. Saat itulah tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku terkejut setengah mati, aku pikir ada hantu mendekat. Si brengsek dengan santainya menyodorkan sapu tangannya ke aku. Serta-merta aku menepisnya dan bangkit untuk segera meninggalkannya.

Tapi, dengan sigap tangannya menyambar pergelangan tanganku. Walau sudah sekuat tenaga mengibas-ngibaskan tanganku agar terlepas, tetap aja gagal. Cengkeramannya terlalu kuat. Kemudian dia ikut bangkit dan berdiri di hadapanku.

"Apa, sih, mau kamu? Belum puas juga kamu nyakitin aku? Apa masih mau ditambah lagi?! Masih mau menghina aku lagi?!" Dia diam tidak menjawab.

Hanya matanya yang terus menatap ke arahku. Tajam tapi juga lembut, menembus langsung ke ulu hatiku. Jantungku jadi blingsatan tak karuan. Kata-kata yang tadinya sudah aku susun rapi dan siap aku tumpahkan ke mukanya mendadak lenyap.

Mulutku gagu. Sejurus kemudian, di luar dugaan, mendadak dia merengkuh kepalaku dan membenamkannya ke dalam dekapannya. Aku berontak berusaha untuk melepaskan. Tapi, tangannya terlalu kuat memelukku. Sampai dadaku ikut sesak. Akhirnya aku pasrah dan menangis dalam pelukannya.

"Maaf, sudah membuatmu benci sama aku. Aku sayang sama kamu." Aku terkejut karena tidak yakin apa yang diucapkannya barusan. Sebab, sikapnya selama ini beda banget dengan sikapnya sekarang. Apa dia mau mempermainkan aku lagi?

"Tapi, sayangnya panuku tidak kompak. Dia tidak sabar untuk menyampaikan perasaanku sama kamu."

"Kamu nggak malu, kan, punya pacar yang panuan?" Aku tidak tahan untuk tidak ketawa. Melihat aku tertawa, dia pun ikut tertawa.

Cuma karena panu, dia malu untuk menyatakan cintanya sama aku. Dia lebih memilih bersikap dingin dan acuh sama aku. Sekarang berkat jasa panu juga, akhirnya kami bisa saling jujur dengan perasaan masing-masing dan bisa menjalin kasih.

Menunggu saat Bintang Jatuh

LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam dengan anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang jatuh.

Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk satu permintaan. Ah, kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain?

Seandainya bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang. Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam.

Sayang, saat ini, aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah, tinggi di awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan.

Aku terlahir sebagai bocah desa biasa, anak buruh tani. Kedua orang tuaku tak lulus SD, begitu juga kedua kakak perempuanku. Mereka menikah di usia yang masih sangat belia, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak, suami, dan dapur.

Status yang menurutku benar-benar rendah dan aku tak mau seperti mereka. Adalah Pak Ahmad, kepala desaku yang menjadi kepanjangan tangan Tuhan mengubah seluruh duniaku. Beliau mengangkatku menjadi anak asuhnya sejak aku SD karena terkesan dengan prestasi belajarku saat aku menjadi juara 1 lomba cerdas cermat se-kecamatan.

Sejak saat itu, beliau menanggung semua biaya pendidikan, termasuk semua keperluanku. Aku tak pernah kekurangan apa pun. Semua yang aku mau, sekarang aku minta, esok pagi saat aku baru membuka mata, pasti aku telah mendapatkannya. Aku cantik, setidaknya aku primadona desa. Aku juga sudah memiliki belahan hati yang telah kuyakini adalah jodohku. Laki-laki tersebut bernama Awan. Itu yang dulu aku namai keberuntungan.

Aku menikmati semua anugerah Tuhan tersebut. Tapi, saat ini tidak demikian, aku berharap ada bintang jatuh, berharap mitos tentangnya benar. Satu keinginan yang ingin aku minta adalah aku tak ingin jadi diriku sekarang. Aku ingin menjadi Sekar, gadis desa anak Pak Kardi dan Ibu Karmi, buruh tani yang tak lulus SD. Aku ingin seperti Mbak Gendis dan Mbak Elok.

Semua masih biasa saja sampai kemarin, namun sebuah kejadian tadi siang benar-benar menjungkir balik duniaku. Seharusnya, siang ini menjadi saat paling indah dalam hidupku. Sebulan yang lalu, Awan mengungkapkan niat untuk melamarku dan aku setuju. Aku telah merangkai jutaan angan tentang masa depan kami, tentang rumah mungil yang hangat. Tentang bayi-bayi lucu yang kelak menjadi calon profesor.

Sebuah hal yang tak aku duga, ternyata, merusak segalanya. Kedatangan Awan hari ini tak kunyana tak mendapatkan sambutan baik dari bapak angkatku. Beliau menolak mentah-mentah niat Awan untuk meminangku. Bahkan, beliau bersumpah tidak akan menyetujui hubungan kami sampai kapan pun. Aku tak pernah melihat bapak semarah itu, tidak sama sekali sejak 11 tahun aku mengenal beliau.

Tapi, hari ini malaikat itu berubah menjadi monster paling menakutkan. Semua tak seperti kemarin lagi. Dunia tak lagi indah bagiku, meski langit sedang berpesta di atas sana. Hatiku terasa jauh lebih sakit saat tadi sore, setelah bencana itu, aku pulang ke rumah orang tua kandungku. Aku menceritakan semuanya, namun tak memperoleh pembelaan di sana. Di rumah orang tua yang telah melahirkanku.

"Kamu sudah dewasa, kamu sudah jadi wong pinter nduk, dan semua itu karena jasa Pak Ahmad, bapak angkatmu. Jangan jadi anak durhaka Sekar, mintalah maaf kepadanya dan turuti apa yang beliau minta." Hatiku sakit mendengar kalimat itu, ringan keluar dari bibir ibu, wanita yang mengandung dan melahirkanku. Meski tanpa melihat wajah beliau, aku tahu tak ada beban dari nada suaranya. Ah ibu, apa benar tak ada lagi cintamu untukku?

Langit masih bertabur bintang di atas sana, masih menyiratkan keindahan alam awang-awang nun tak terjamah. Angin malam mulai membuatku menggigil. Aku baru sadar, aku tidak sedang di rumah Pak Kepala Desa yang megah dan hangat. Namun, aku sedang meringkuk di sudut balai desa tak berdinding, tanpa alas, dan tanpa teman.

Aku tak tau apakah bapak angkatku saat ini sedang sibuk mencariku atau hanya diam di rumah menungguku pulang sendiri. Meminta maaf kepadanya, lalu dengan santun mengatakan bahwa aku akan ikhlas menerima apa pun yang beliau mau.

Baru kali ini aku tahu betapa berharga sebuah kemerdekaan dan kebebasan menentukan pilihan sendiri. Andai aku bisa, aku ingin kembali ke masa lalu, aku tak ingin mengenal seseorang yang pernah aku anggap malaikat itu. Tak apalah aku hanya menjadi gadis desa yang bodoh, seperti yang lain, hidup bersama Awan.

Awan, mengingatnya kembali membuat dadaku sesak. Aku bodoh, aku lemah, dan aku tak mampu melawan. Kuintip lagi langit yang tampak jelas dari tempatku menyudut, tetap semarak meski sangat sepi. Pasti sudah lewat dini hari, kelengangan meraja.

****

Silau mentari menerpa wajahku, aku menyipitkan mata karenanya. Hari sudah terang. Aku tersentak kaget saat menyadari ada seseorang di dekatku. Bapak? Bagaimana bisa orang yang kuhujat semalaman itu tiba-tiba duduk di dekatku. Sebuah sarung kotak-kotak warna hijau menyelimuti tubuhku.

Aku kenal betul benda itu, sarung yang sengaja aku beli untuk Bapak saat aku liburan ke Jogja dulu. Bapak selalu mengenakannya. Air mataku meleleh melihat malaikat itu tertidur dalam posisi duduk. Pastilah tulang-tulang tua tersebut memberinya rasa pegal dan sakit yang menyiksa. Tiba-tiba aku merasa sangat berdosa kepadanya. Bapak, maafkan aku.

"Jangan menangis cah ayu,...jangan cengeng.." Rupanya, isak tangisku mengusik tidur beliau. Tangan tuanya yang keriput mengusap air mata di pipiku. Aku makin tersedu.

"Bapak tahu kamu sangat marah sama Bapak karena kejadian kemarin...." Suara datar penuh wibawa itu terdengar sangat halus.

"Bapak tak akan melarangmu menikah dengan siapa pun. Kamu bebas memilih, kamu telah dewasa, bahkan sebentar lagi kamu akan sah jadi sarjana, yang pertama dan satu-satunya di desa ini. Tapi, jangan dengan anak bajingan itu, sampai mati pun bapak tak rela.." Aku memilih diam, aku hanya terisak dan semakin terisak. Aku pasrah saja saat bapak angkatku itu menuntunku pulang.

****

Seminggu sudah bencana itu berlalu, aku memilih patuh kepada Bapak. Sudah seminggu pula, aku menghabiskan malam tanpa menutup mata. Berdiam diri di balkon kamarku sambil menatap langit berharap dapat menemukan bintang jatuh. Malam ini, kupastikan tak ada bintang jatuh, hujan sudah mengguyur bumi mulai sore tadi. Tapi, aku tetap seperti hari-hari sebelumnya.

"Nduk Sekar, dipanggil Bapak," suara Mbok Jah terdengar dari balik pintu kamarku.

"Ya Mbok, terima kasih," jawabku acuh tanpa membuka pintu

"Nduk, dipanggil Bapak," Mbok jah mengulangi panggilannya.

"Iya..iya.., bentar!!!" sambil membuka pintu kubentak wanita sepuh itu.

"Maaf nduk, tapi Bapak sedang sakit. Beliau ingin bertemu dengan Nduk Sekar."

"Sakit? Sakit apa? Sejak kapan Mbok? Sepertinya, kemarin-kemarin aku melihat Bapak sehat-sehat saja?" aku menghujani pertanyaan kepada Mbok Jah sambil melangkah menuju kamar Bapak. Pintu kamar itu terbuka sebagian, dari luar aku sudah dapat melihat wajah Bapak. Pucat dan lemah.

"Bapak kenapa?? Bapak...." aku menjerit histeris sambil memegangi tangan Bapak.

"Jangan menikah dengan anak Surya, Sekar. Berjanjilah pada Bapakmu ini,....berjanjilah," suara itu samar, hampir tak terdengar tapi sangat menghujam jantungku. Refleks aku mengangguk.

"Aku berjajni Bapak, aku berjanji,...."

****

Hari ini aku terpaku menatap gundukan tanah yang masih basah. Semerbak bau kembang terbawa angin bersama debu dan daun kering. Di bawah sana, malaikat sekaligus monster itu terbaring untuk selamanya meninggalkan janji yang sangat berat di pundakku.

Di seberang sana, aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Awan terpaku di bawah pohon kamboja. Seakan memintaku untuk mendekatinya. Aku ingin berlari ke arahnya menumpahkan kerinduanku. Tapi, janji yang aku ucap semalam kepada jasad yang tertidur di bawah nisan ini merantai kakiku. Aku memilih untuk meninggalkan tempat itu, tanpa menegur atau sekadar membalas tatapannya.

Nyawaku tak utuh lagi. Mungkin pergi bersama Bapak atau tinggal bersama Awan yang masih terpaku di bawah pohon kamboja. Janji adalah utang. Kepada beliau, aku tak hanya utang janji, tapi juga utang budi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala sesuatu, meski untuk sebutir pasir sekalipun. Jika itu harga yang harus aku bayar, akan aku lakukan. Aku memang tak yakin bisa hidup tanpa Awan.

Tapi, aku telah memilih untuk menepati janjiku kepada Bapak. Biarlah takdir sendiri yang menentukan jalan kami. Seperti bintang yang patuh untuk turun ke bumi saat Sang Mahakuasa menghendakinya demikian.

Dendamlah yang membuat Bapak sangat membenci Pak Surya, orang tua Awan. Bapak sangat meyakini bahwa kematian istri dan putri tunggalnya, Mbak Lastri, adalah karena teluh yang dikirim Pak Surya yang kala itu kalah pemilihan kepala desa.

Bapak sangat meyakini itu benar. Meski diagnosis dokter mengatakan bahwa mereka meninggal karena DBD. Saat itu, memang desa ini sedang diserang wabah DBD. Namun, karena kejadian tersebut hanya berselang satu hari setelah kemenangan Bapak, beliau meyakini ada kekuatan lain yang merenggut nyawa dua orang keluarganya itu hingga meninggal secara bersamaan. (*)

Bando Pelangi Milik sang Putri

Oleh Raskandya Putranaya

Di kota sebesar ini, pelangi berani menampakkan diri. Warna alami itu berasal dari...?! Kusarankan, pertanyaan yang belum selesai tersebut lebih baik dijawab dengan imajinasi. Imajinasi anak-anak lebih tepatnya. Sebab, tak baik bicara pelangi di kota metropolitan ini. Pantangan masyarakat. Tabu, tidak baik sekaligus tidak benar menurut KTP. Kartu yang tak perlu diragukan lagi kesaktiannya, meski kini sudah hampir kurang jelas antara apa yang menandai dan yang ditandai.

Siapa pun tahu, tabu bagi kota ini adalah segala hal yang berbau melankolis. Tabu bukan lagi permasalahan mens ataupun seks. Sebab, seks dan mens dapat menjadikan seseorang cepat dewasa.

Sedangkan sedalam-dalamnya menalar melankolis selalu saja mengembalikan diri kita ke masa lalu. Kehadiran pelangi secara tiba-tiba inilah yang membuat kedua adikku sejenak menghentikan perdebatan asmara.

Pelangi telah mengembalikan masa lalu kami. Masa lalu bersama dongeng-dongeng. Dongeng para nenek. Aku masih ingat waktu itu nenek pernah bilang bahwa pelangi adalah bando yang hilang milik seorang putri. Putri tersebut selalu menangis bila ingat bandonya.

Para abdinya mencoba menenangkan sang putri. Mereka juga meramalkan bahwa suatu saat nanti ada seorang pangeran yang akan mengembalikan bandonya. Tapi, selama bertahun-tahun menunggu, bertahun-tahun pula dia menangis. Ternyata, ramalan itu tidak juga menjadi benar.

"Kak, ada apa senyum-senyum sendiri?" adik bungsuku menegur adikku yang lain

"Nenek benar, Dik."

"Benar apanya?" Adik bungsu bertanya lagi.

"Kita telah menemukan bando putri yang hilang, maka kita bisa menjadi seorang putri."

Aku suka canda mereka. Bayangkan sebelum pelangi menampakkan diri, sebenarnya mereka banyak berdebat. Tapi, kini mereka bersahabat. Sebagai kakak tertua, aku senang melihat mereka bisa sama-sama bahagia.

Sore hari, gradasi pelangi yang datang bersama hujan hampir pergi ditelan malam. Malam nanti malam minggu. Biasanya, kedua adikku akan pergi untuk malam mingguan. Mereka berlari. Siapa pun pasti tahu ke mana arah perempuan berlari saban sore. Pasti melakukan rangkaian mandi, bersiap-siap, berdandan, dan mematut busana kencan. Lagi pula sekarang kan malam Minggu.

Aku masih berada di teras ketika mereka mandi. Suasana terasa tenang tanpa suara-suara mereka. Ketika kupandangi langit, aku tak bisa melihat pelangi lagi. Barangkali sudah terlalu lama aku melamun di teras sampai tidak kulihat di depanku ada dua putri cantik.

Mereka sudah bersiap-siap pergi, mungkin ke pesta dansa seperti Cinderella atau sekadar makan malam yang hanya diterangi lilin-lilin. Aku tidak tahu pasti. Namun, menurutku, hanya itu alasan perempuan berhias di malam Minggu. Adikku yang bungsu berangkat lebih dulu. Dia dijemput kekasihnya.

Tak berselang lama, adikku yang kedua juga berangkat. Dia juga dijemput pacarnya. Aku berpesan kepada mereka untuk hati-hati. Karena hari ini mereka tampak seperti putri, aku juga mengingatkan agar tidak meninggalkan sepatunya.

Teras semakin sepi. Dalam sepi, aku telah melupakan angan-angan masa kecil itu. Lagi pula, pelangi sudah habis dimakan malam. Aku memang tidak terlalu mengharapkan mimpi menjadi seorang pangeran karena aku benar-benar sudah senang melihat kedua adikku bisa senantiasa tersenyum manis padaku.

Aku duduk di bangku, membaca buku, begitu caraku mengalihkan pikiran tak perlu. Di luar kudengar suara mobil mendekat, ternyata, berhenti di depan pagar rumah. Itu adikku yang kedua. Dia masuk rumah dengan muka cemberut. Apa yang terjadi dengannya, padahal dia berangkat lebih awal dari adikku yang bungsu?

"Mir," aku mencegatnya di teras. "Kok sudah pulang?"

"Nanda belum pulang, Kak?" dia balik bertanya.

"Belum, emangnya kenapa?"

"Aku ingin bicara sama Nanda."

"Bicara saja sama kakak."

Mira memang lebih sering curhat dengan Nanda. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan. Aku tahu tidak baik bila memaksanya. Aku biarkan Mira diam. Mira masuk ke dalam rumah, kemudian tak lama dia kembali ke teras. Seperti tadi, dia belum mau menceritakan masalahnya kepadaku.

"Kak," Akhirnya dia cerita juga, mungkin terlalu lama dia menunggu Nanda. Kesempatan itu kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku berusaha menempatkan diri sebagai sahabatnya. Pembicaraanku dengannya membuat aura kesedihan melekat jelas di wajahnya. Dia sedikit menangis.

Awalnya, tangis itu membuatku merasa bersalah. Tapi, aku tahu air mata baik untuk menghilangkan kepedihan-kepedihan. Di tengah-tengah keheningan teras dan cerita kita, aku melihat Nanda pulang. Sekarang masih jam delapan. Jam segini di kota metropolitan masih jam aktif. Aku khawatir kejadian yang menimpa Mira juga menimpanya.

"Sudah pulang Dik?" sapaku. Mira menunduk tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya. Aku paham alasan Mira menunduk.

Nanda melangkah cepat, lalu memelukku. Aku tersentak. Mira melihat ke arah kami. "Ada apa Dik?" dia bertanya. Setelah isak tangis Nanda mereda, kami bertiga bicara. Kali ini pembicaraan di antara kami disertai pula dengan hati.

Kini aku tahu adik-adikku sedang bermasalah dengan asmara. Kali ini sisi duka mengakrabi mereka. Aku tak kuasa melihat mereka dalam keadaan seperti itu. Andai saja bisa, aku mau menggantikan posisi mereka. Sebab, bagi seorang kakak, kebahagiaan adik-adiknya paling utama.

"Dik," Mira berbicara kepada Nanda. "Ternyata pelangi yang kita lihat tadi itu bukan bando milik putri. Ternyata, kita belum menemukan bando itu."

"Ya, Kak."

Aku berusaha mementahkan anggapan itu. Aku yakin, meskipun air mata menetes di pipi mereka, aku melihat mereka tak ada berbeda dengan seorang putri. Apalagi bila mereka tersenyum seperti sebelum berangkat tadi.

Siapa pun itu akan selalu mengidamkan untuk berada di sampingnya. Aku yakin seseorang yang menyia-nyiakan mereka kini sedang meratap sesal. Mereka berpelukan.

Sepertinya, mereka salah bila mengira belum menemukan bando seorang putri yang menangis. Ceritakan saja cerita itu kepada nenek. Dia akan mengatakan, "Kakak laki-laki sudah menjadi pangeran bagi adik-adiknya.

Kedua adiknya menjelma sebagai putri di hati sang pangeran. Begitu kiranya nenek akan menutup dongeng untuk cucunya. Selain itu, nenek akan mengatakan, "Sekarang sudah malam, waktunya tidur".

Selasa, 24 Juni 2008

La Lights Indiefest part 1

ini dari festival La Lights Indiefest..

The_Morning_After_Quatro

Lipgloss_Mereka_Sebut_Timur


~download~~

The_Morning_After_Quatro

Lipgloss_Mereka_Sebut_Timur

yang lain tunggu ya,,masih proses upload.. =^,^=

Senin, 23 Juni 2008

10 video clip US-UK [DVD rip] part 2

Colbie Caillat - Bubbly
Christina Aguilera - Candyman
Carrie Underwood - So Small
Natasha Bedingfield - I Wanna Have Your Babies
Leona Lewis - Bleeding Love
Kelly Clarkson - Dont Waste Your Time
Natasha Bedingfield Ft Sean Kingston - Love Like This
Rihanna Ft Ne-Yo - Hate That I Love You
50 Cent ft Justin Timberlake And Timbaland - Ayo Technology
Akon - Sorry Blame It On Me
Rihanna - Dont Stop The Music
Backstreet Boys - Inconsolable
Santana Ft Michelle Branch - The Game of Love
Santana Ft Michelle Branch & Jessica Harp - I'm Feeling You
Santana ft Chad Kroeger - Into The Night

~~Download~~


~~Colbie Caillat - Bubbly
http://rapidshare.com/files/72532869/ColbieCaillat-Bubbly.avi

~~Christina Aguilera - Candyman
http://rapidshare.com/files/72537352/ChristinaAguilera-Candyman.avi

~~Carrie Underwood - So Small
http://rapidshare.com/files/74176305/CarrieUnderwood-Sosmall.avi
http://www.megaupload.com/?d=UUG2KW7G

~~Natasha Bedingfield - I Wanna Have Your Babies
http://rapidshare.com/files/72534494/NatashaBedingfield-IWannaHaveYourBabies.avi

~~Leona Lewis - Bleeding Love
http://rapidshare.com/files/70825048/LeonaLewis-BleedingLove.avi

~~Kelly Clarkson - Dont Waste Your Time
http://rapidshare.com/files/70818381/KellyClarkson-DontWasteYourTime.avi

~~Natasha Bedingfield Ft Sean Kingston - Love Like This
http://rapidshare.com/files/71000366/NatashaBedingfieldFtSeanKingston-LoveLikeThis.avi

~~Rihanna Ft Ne-Yo - Hate That I Love You
http://rapidshare.com/files/70998874/RihannaFtNe-Yo-HateThatILoveYou.avi

~~50 Cent ft Justin Timberlake And Timbaland - Ayo Technology
http://rapidshare.com/files/69420863/50centftjustintimberlakeandtimbaland-ayotechnology.avi
http://www.megaupload.com/?d=TT9CCEKZ

~~Akon - Sorry Blame It On Me
http://rapidshare.com/files/69424876/Akon-SorryBlameItOnMe.avi
http://www.megaupload.com/?d=BVHW4OKT

~~Rihanna - Dont Stop The Music http://rapidshare.com/files/69428661/Rihanna-DontStopTheMusic.avi
http://www.megaupload.com/?d=8SOWQA6S

~~Backstreet Boys - Inconsolable
http://rapidshare.com/files/69431347/BackstreetBoys-Inconsolable.avi
http://www.megaupload.com/?d=Q3Q3MYK4

~~Santana Ft Michelle Branch - The Game of Love
http://www.megaupload.com/?d=M8MFS91D
http://rapidshare.com/files/82776597/MichelleBranchFtSantana-TheGameOfLove.avi

~~Santana Ft Michelle Branch & Jessica Harp - I'm Feeling You
http://www.megaupload.com/?d=N7OTGQCS
http://rapidshare.com/files/85822606/CarlosSantanaFtMichelleBranch-ImFeelingYou.avi

~~Santana ft Chad Kroeger - Into The Night
http://rapidshare.com/files/69418320/sANTANAfTcHADkROEGER-IntoTheNight.avi
http://www.megaupload.com/?d=2V6OYEDK

10 video clip US-UK [DVD rip] part 1

1. Fergie - Big Girls Don't Cry
2. Christina Aguilera, Lil' Kim, Mya & Pink - Lady Marmalade
3. Beyonce Knowles - Listen
4. Carrie Underwood - Don't Forget To Remember Me
5. Jessica Simpson Ft Nick Lachey - Where You Are
6. Alica Keys - No One
7. Nicole Scherzinger Ft Will.I.Am - Baby Love
8. Mary J. Blige - Just Fine
9. Girls Aloud - Call The Shots
10. Destiny's Child - 8 Days Of Christmas


~~Download~~


1. Fergie - Big Girls Don't Cry
http://www.megaupload.com/?d=1VKC5YBC
http://rapidshare.com/files/74290831/Fergie-BigGirlsDontCry.avi

2. Christina Aguilera, Lil' Kim, Mya & Pink - Lady Marmalade
http://www.megaupload.com/?d=FZ6HNEQV
http://rapidshare.com/files/74290731/ChristinaAguilera-LadyMarmalade.avi

3. Beyonce Knowles - Listen
http://www.megaupload.com/?d=F88C7YI7
http://rapidshare.com/files/74290644/BeyonceKnowles-Listen.avi

4. Carrie Underwood - Don't Forget To Remember Me
http://www.megaupload.com/?d=S9EH29ID
http://rapidshare.com/files/74290422/CarrieUnderwood-DontForgetToRememberMe.avi

5. Jessica Simpson Ft Nick Lachey - Where You Are
http://www.megaupload.com/?d=J6BCBE9O
http://rapidshare.com/files/74290520/JessicaSimpson-WhereYouAre.avi

6. Alica Keys - No One
http://www.megaupload.com/?d=I0KL1CKM
http://rapidshare.com/files/74290292/AliciaKeys-NoOne.avi

7. Nicole Scherzinger Ft Will.I.Am - Baby Love
http://rapidshare.com/files/74290188/NicoleScherzinger-BabyLove.avi
http://www.megaupload.com/?d=UQK6EC5C

8. Mary J. Blige - Just Fine
http://rapidshare.com/files/74168699/MaryJ.Blige-JustFine.avi
http://www.megaupload.com/?d=DN1EJD3U

9. Girls Aloud - Call The Shots
http://rapidshare.com/files/74176203/GirlsAloud-CallTheShots.avi
http://www.megaupload.com/?d=6QZOEETI

10. Destiny's Child - 8 Days Of Christmas
http://rapidshare.com/files/74176264/Destiny_27sChild-8DaysOfChristmas.avi
http://www.megaupload.com/?d=8HG5AJCD